Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2010

Kredit

Sesampainya di lampu merah Kutaruh motorku di remukan bulan Di sana Aku menemukan bocah kecil bercelana mungil Di celananya tertulis “Jangan ditabrak, kredit belum lunas!” Kemudian aku meninggalkanya di sebuah bulan Ku selipkan bunga di belahan bokongnya Setelah berjalan sepuluh meter Aku menemukan ibunya Sedang menghitung dosa anaknya Lama aku tak menemuinya kembali, Ku jumpai ia sedang mati dipinggir jalan Dibungkus Koran dan dibacakan cacian Ibunya menangis ditampar debu Malam harinya aku menemui arwahnya Sedang jalan-jalan di pinggir trotoar Diselipkanya bunga di telingaku Dan berbisik “Aku sudah lunas Bang,”

Saus Kacang

Saya sedang mengadakan rapat dengan para saus kacang Di sana ada beberapa rerumputan, dan secuil kerikil hitam Saya mengusulkan diadakan pemilihan antah berantah bagi rerumputan Dan lowongan pekerjaan bagi sejumlah kerikil tajam Dasar saus, tergencet sedikit saja Sudah muncrat, Dasar muncrat, Sedikit saja, melebar kemana-mana. “Kepada para saus kacang, harap tenang,” “Kepada para kerikil harab bersabar,” Tiba-tiba rerumputan bergoyang dan menyanyikan sebuah lagu “Hiduplah Indonesia Raya,” Kerikil menjawab “Amin” Para saus kacang bertanya, “Amin?” Kerikil hanya mampu berserakan, dan rumput hanya bisa bergoyang, Rapat telah dibubarkan Sampai sekarang para saus, tak tahu Amin

Suatu Hari di Penyuluhan

Suatu hari di penyuluhan Kabar baik yang kuterima dari seorang nelayan Adalah ia bukan lagi seorang nelayan Setiap pagi kerjanya hanya Meniduri rob dan menjamahi peninggian jalan Kabar baik yang kuterima dari seorang karyawan Adalah ia bukan lagi sebagai karyawan Setiap petang kerjanya Cuma mancing ikan Bersama mantan nelayan “Ini bukan perahu saya,” “Ini perahu, hasil menjual anak saya ke pendidikan,” “Ini perahu, hasil menjual istri ke perkotaan,” “Ini perahu, hasil menjual Ibu mengemis di jalanan,” Seusai penyuluhan Aku pergi ke perahu itu Dan menemui mayat anaknya sedang bergumam di atas awan