Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2011

BAHASA INDONESIA SEBAGAI PONDASI DASAR PEMERTAHANAN BUDAYA BANGSA INDONESIA

Salah satu masalah utama dalam bidang kebudayan adalah masalah identitas kebangsaan. Dengan derasnya arus globalisasi dikhawatirkan budaya bangsa, khususnya budaya lokal akan mulai terkikis. Budaya asing kini kian mewabah dan mulai mengikis eksistensi budaya lokal yang sarat makna. Agar eksistensi budaya tetap kukuh, maka diperlukan pemertahanan budaya. Fenomena anak usia sekolah yang senang dengan budaya asing menjadikan kewaspadaan untuk mengangkat dan melestarikan budaya bangsa indonesia agar menjadi bagian integratif dalam pergaulan remaja indonesia. Beberapa hal yang termasuk budaya diantaranya adalah bahasa. Dalam tulisan ini, penulis mencoba mengemukakan pentingnya menjadikan bahasa indonesia sebagai pondasi dasar dalam pemertahanan budaya bangsa. Hal ini dilakukan sebagai perlaawanan untuk mencegah istilah-istilah asing yang dapat merusak kaidah bahasa indonesia. Pada akhirnya, bahasa Indonesia sebagai pondasi dasar dalam pemertahanan budaya bangsa diharapkan akan mengimbangi p...

Malu?

Nasionalisme? Masih adakah dalam jiwa anak-anak bangsa? Pertanyaan itulah yang sekarang membutuhkan jawaban yang jujur dari hati nurani kita masing-masing. Bukan dijawab dengan kata-kata, tapi dengan tindakan yang benar. Bahkan para pengamat menilai rasa cinta tanah air di kalangan masyarakat luas hingga pemimpin bangsa sudah menurun, hal ini disebabkan karena aspek kebudayaan bangsa Indonesia yang lemah. Kebudayaan yang seharusnya kita junjung tinggi dan harus dilestarikan perlahan mulai kita lupakan, tergantikan dengan kecanggihan zaman. Anak-anak kecil tak lagi main petak umpet, grobag sodor, belajar membatik, belajar menari daerah dan kesenian daerah lainya. Mereka lebih memilih play station, les balet, dance, dan wahana ceria seperti dunia fantasi. Para remaja kita tak mau lagi bersentuhan dengan batik ataupun kebaya. Mungkin masih ada, tapi jumlah itu sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Lalu mengapa kita sekarang berteriak-teriak lantang namun tak m...

Kenangan SD

Aku masih inget seorang teman SD, Namanya Linda Mustika Widiatno. Temen-temen biasa memanggilnaya Linda. Menurutku Linda adalah cewek tercantik waktu itu. Rambutnya panjang, lurus, senyumnya manis, dan cukup baik hati. Memang Linda tak secantik Nikita Willy atau Donita. Tapi lebih cantik lah, kalau dibandingin ama Siren Sungkar. Kulitnya putih langsat. Yang paling ngangeni darinya adalah tahi lalatnya. Terletak dibawah bibir, sebelah kanan. Mungil, manis dan imut banget. Sewaktu dulu, cintanya anak SD hanya sekadar guyonan. Ada saja hal-hal yang sering kuingat, misalnya pagi-pagi selalu ada gambar hati dipanah, dan di tengahnya ada tulisan nama seorang. Contohnya, Sobirin love Dwi. Ada-ada saja anak SD udah kenal cinta. Kembali ngomongin Linda, aku mash inget, dulu waktu kelas satu, aku pernah satu bangku sama dia. Rasanya berdebar-debar duduk deket dia. Aku, cowok kurang popular di SD, sebangku dengan cewek paling cantik di kelas itu. Hehehehe… Tapi, ini terjadi selama satu Cawu (ti...

Belajar istigfar

Salah Belajar Istighfar Suara adzan ashar berkumandang dengan mesra, ketika Munir mencoba kembali membaca kitab Fathul Qorib. Kepalanya dipukul beberapa kali oleh kang Aziz karena ia salah menentukan i’rob dan tasrifan suatu kata. Kitab yang dibawanya adalah warisan dari kang-kang yang lebih dulu mondok di pondok pesantren Al-Itqon. Sebuah pondok dekat dengan jalan pantura, sehingga memudahkan para santrinya untuk membolos sorogan. Sore itu memang hanya ada kang Aziz, Munir, dan seorang santri baru yang belum berani membolos, Tarom namanya, anak kyai mushola yang katanya hafal Al-qur’an dalam satu minggu. “Kitaba ahkamu thoharotu, utawi iki iku nerangake kitab hukum sesuci” “Salah!” “Katibu ahkami thoharoti” “Salah” “Lha terus apa bacanya, kang?” “Kitabu ahkami thoharoti, ngerti?” “Orak” “mubtada’ dibaca rafa’, dan seterusnya dibaca majrur” “Oh” “Wis, hari ini sorogan cukup sampai halaman ini saja, lhawong baca saja masih glagepan” Tarom belum diberi kesempatan membaca kit...

Menulis dengan air

Satu : bingung memulai? Menuang air ke dalam gelas Sekilas anda akan sedikit bingung, apa hubungan antara menulis dengan menuang air ke dalam gelas. Tentu saja ini tidak diartikan secara harfiah saja. Menulis sama halnya dengan menuang air ke dalam gelas. Ini adalah analogi yang paling mudah untuk menjelaskna gampangnya menulis. Daam hal ini menulis cerpen pun sama halnya menuangkan air ke dalam gelas. Banyak anggapan bahwa menulis cerpen itu sulit. Anda tidak tahu kapan akan memulai cerita sebuah cerpen. Anda kebingungan untuk memualia cerita dari mana. Bahkan suatu waktu, anda berpikir untuk tertarik menulis cerpen, tapi anda tidak punya ide. Atau anda kurang yakin akan ide anda. Anda beragnggapan ide ini terlalu mudah atau terlalu sederhana. Jangan putus asa begitu saja, yakinlah bahwa setiap tulisan/cerita yang anda buat alkan bermanfaat setidaknya bagi anda sendiri. Dengan perbaikan itu anda akan semakin yakin untuk meneruskan cerita anda. Percayalah bahwa tulisan itu akan dib...