Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

Malam Sakral

Ayah bilang rembulan terbuat dari cermin Saya masih kecil untuk lelucon semacam itu. Ibu sering bercermin disana, Semacam ritual malam sebelum melakukan hubungan Tentu dipilih malam yang sakral Untuk memahatnya bersama bulan, Dihiasi bintang dan awan, Agar menjadi mahkluk yang kebal. Seketika rembulan berubah bentuk Menjadi semacam pisang. Apa yang terjadi ibu? Dia bilang, ayah marah Gara-gara rembulan mendatanginya. Saat malam sakral pembuatan. Cermin ibu pecah, begitu pula bulan malam ini. Pecah, berdarah, merah. Ayah datang saat ibu datang bulan Setelah berbulan-bulan ia tak datang Kemudian mengajak berhubungan Saat itu juga aku tak pernah bercermin pada bulan.

Pantun Pertamaku

Suatu hari pantunku muncul di Koran, Bunyinya. Diberi berkuku hendak mencengkram. Mengaut laba dengan siku. Janjimu janji lembam Mati satu masuk di saku. Suatu hari, sebenarnya hari itu, Bapak membelikan Koran, sebagai Hadiah ulang tahunku. Pantas saja aku senang, ini pantun pertamaku. Dari mana kau mencipta nak? Dari ibu guru, Dia sering mengajariku Bunyinya. Bapakmu itu Muka licin, ekor berkedal Kecubung berulam ganja Sadar hati pedas layaknya sambal Ucap riuh berkalung dusta. Dasar bapak, ini bukan lelucon Ini buat bapak pemimpin. Makanya, Berkata siang melihat-lihat, berkata malam mendengar-dengar garam kami tak masin padanya sudah gaharu cendana pula. (bapak menyobek koranku, dan membeli lagi Majalah baru)