Zulfa Fahmy Pak Joko, berilah kami perahu yang baru. Nanti kulukis kamu tepat di sisi kanan perahuku. Kugambar dengan cat kayu dan pensil pinjaman anakku. Gambarnya terdiri atas kamu dan aku membawa gunting kuku dan sebilah kayu. Di atasnya ada burung hinggap di kepalamu berkalung perisai dan dan pita ungu. Gambar itu akan menjadi benteng pertamaku menerjang ombak, membelah laut, dan menangkap ikan. Itu menjadi bahan ceritaku untuk anak dan isteriku. Juga para tetangga yang tidak memilihmu, dulu. Tentu kalau sudah luntur gambarnya nanti kugambar lagi dengan presiden yang baru. 21 Oktober 2014
Ketika Cinta Itu Datang, Maka Ketakutan Menyertainya