Beberapa minggu lalu, saya menjadi juri lomba “Puitisasi Alquran”. Pada mulanya saya mengira bahwa ini lomba tulis puisi yang terinspirasi dari ayat Alquran. Namun panitia mengatakan ini lomba baca puisi. Saya mengiyakan tanpa banyak tanya tentang teknis lomba (karena saya sudah pengalaman teknis lomba baca puisi). Sesampainya di tempat lomba, ternyata peserta lombanya adalah “santri” Madrasah Diniyah se-Kabupaten Kendal. Lalu, saya bertanya kepada panitia materi puisi yang dijadikan lomba. Namun, panitia tidak menyediakannya. Katanya materi puisi dibawa sendiri oleh peserta. Sampai pada titik ini, akhirnya saya bertanya tentang format lomba “Puitisasi Puisi” ini. Ternyata ini adalah lomba membaca terjemah Alquran (sari tilawah) dengan pembacaan yang puitis. Karena saya tidak ingin repot-repot tentang penggunaan istilah “Puitisasi Alquran”, saya mengiyakan untuk langsung saja lomba dilaksanakan. Peserta pertama tampil dengan membaca terjemah surat Al-Zalzalah. Dengan perhatian p...
Ketika Cinta Itu Datang, Maka Ketakutan Menyertainya