Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Prasetia

Aku pernah memberimu notebook cantik sepertimu. Tergambar disana sebuah taman. Kau bermain balon dan aku memainkanmu, Seperti layang-layang ungu setiap minggu Yang kau terbangkan bersamaku. Terdapat juga di sana, Pelaminanmu dan pelaminanku bersatu Menjadi parade madu dan pasti seru. Ketika itu Kau mengenakan gaun ungu, di sebelahmu aku Memakai jas ungu juga kesukaanmu. Sengaja, dipernikahan ini aku memilih tema ungu. Karena kau suka warna itu. Karena kau tak akan memakainya lagi kelak, Karena kau tak akan menginginkanya lagi kelak, Karena ini wujud setiaku padamu, Karena kau tak akan menjanda bersamaku. Di notebookmu tertulis aku cinta kamu Kujawab aku juga cinta kamu.

Cinta

Para dewata mendengar tulisanku ini, dan para penyair menulis ucapanku ini. Sebuah tulisan tentang kamu, gadis tanpa cela. Mentari bersinar dan kau sebuah bunga mekar. Setidaknya merpati yang sering kau ceritakan, selalu malu melihatmu. Karena bulu putihnya tak selembut kulitmu. Menerangi daun agar dapat menunaikan fotosintesis. Maka, melihatmu adalah lebih sakral dari pernikahan arjuna. Diiringi alunan daun berguguran seakan melambai tangan atas langkahmu. Walau kata cinta telah diucapkan dalam berbagai kata di seluruh penjuru dunia, sudahkan kau mencari tahu makna cinta yang sebenarnya? Dalam perhitungan cinta, satu tambah satu sama dengan segalanya, dan dua dikurangi satu sama dengan sia-sia. Cinta adalah doa, cinta adalah ibadah, dan cinta itu menyehatkan. Maka ijinkan aku menawarkan sebuah cinta tanpa kata, dan tanpa gula. Karena aku akan menciptakan makna baru pada kata “cinta”. Aku cinta kamu! Aku ingin menunaikan cinta denganmu. Jika kau ternoda sedikit dari percikan duri...

Malam Sakral

Ayah bilang rembulan terbuat dari cermin Saya masih kecil untuk lelucon semacam itu. Ibu sering bercermin disana, Semacam ritual malam sebelum melakukan hubungan Tentu dipilih malam yang sakral Untuk memahatnya bersama bulan, Dihiasi bintang dan awan, Agar menjadi mahkluk yang kebal. Seketika rembulan berubah bentuk Menjadi semacam pisang. Apa yang terjadi ibu? Dia bilang, ayah marah Gara-gara rembulan mendatanginya. Saat malam sakral pembuatan. Cermin ibu pecah, begitu pula bulan malam ini. Pecah, berdarah, merah. Ayah datang saat ibu datang bulan Setelah berbulan-bulan ia tak datang Kemudian mengajak berhubungan Saat itu juga aku tak pernah bercermin pada bulan.

Pantun Pertamaku

Suatu hari pantunku muncul di Koran, Bunyinya. Diberi berkuku hendak mencengkram. Mengaut laba dengan siku. Janjimu janji lembam Mati satu masuk di saku. Suatu hari, sebenarnya hari itu, Bapak membelikan Koran, sebagai Hadiah ulang tahunku. Pantas saja aku senang, ini pantun pertamaku. Dari mana kau mencipta nak? Dari ibu guru, Dia sering mengajariku Bunyinya. Bapakmu itu Muka licin, ekor berkedal Kecubung berulam ganja Sadar hati pedas layaknya sambal Ucap riuh berkalung dusta. Dasar bapak, ini bukan lelucon Ini buat bapak pemimpin. Makanya, Berkata siang melihat-lihat, berkata malam mendengar-dengar garam kami tak masin padanya sudah gaharu cendana pula. (bapak menyobek koranku, dan membeli lagi Majalah baru)

Tulislah apa yang anda ketahui..

(Imajinasi tanpa realita akan membusuk) Menciptakan suaru cerpen yang menarik adalah suatu yang gampang-gampang susah. Pada materi pertama telah dijelaskan menulis layaknya menuangkan air ke dalam gelas. Nah, cerpen yang bagus pastilah tercipta dari tangan penulis yang sering menulis pula. Penulis seperti ini punya banyak sekali ide dalam setiap tulisanya. Mereka menciptakan sebuah alur yang bagus, tokoh yang kuat, dan tema yang menarik. Dari semua ini, muncul pertanyaan “dari mana ide mereka selama ini? Hanya ada satu sumber yang tersedia sebagai bahan fiksi Anda. Sumber tersebut adalah pengalaman Anda sendiri, kehidupan Anda sendiri, kenangan Anda sendiri, mimpi Anda sendiri, dan imajinasi Anda sendiri. Tokoh yang Anda ciptakan mungkin saja orang yang Anda kenal. Alur yang Anda ciptakan munkin saja pengalaman Anda sendiri. Sebelum menuangkan tokoh atau situasi lain ke dalam kertas, Anda harus menelaah dalam-dalam ingatan Anda. Ingatlah peristiwa Anda secara detil. Ingatlah teman A...

BAHASA INDONESIA SEBAGAI PONDASI DASAR PEMERTAHANAN BUDAYA BANGSA INDONESIA

Salah satu masalah utama dalam bidang kebudayan adalah masalah identitas kebangsaan. Dengan derasnya arus globalisasi dikhawatirkan budaya bangsa, khususnya budaya lokal akan mulai terkikis. Budaya asing kini kian mewabah dan mulai mengikis eksistensi budaya lokal yang sarat makna. Agar eksistensi budaya tetap kukuh, maka diperlukan pemertahanan budaya. Fenomena anak usia sekolah yang senang dengan budaya asing menjadikan kewaspadaan untuk mengangkat dan melestarikan budaya bangsa indonesia agar menjadi bagian integratif dalam pergaulan remaja indonesia. Beberapa hal yang termasuk budaya diantaranya adalah bahasa. Dalam tulisan ini, penulis mencoba mengemukakan pentingnya menjadikan bahasa indonesia sebagai pondasi dasar dalam pemertahanan budaya bangsa. Hal ini dilakukan sebagai perlaawanan untuk mencegah istilah-istilah asing yang dapat merusak kaidah bahasa indonesia. Pada akhirnya, bahasa Indonesia sebagai pondasi dasar dalam pemertahanan budaya bangsa diharapkan akan mengimbangi p...

Malu?

Nasionalisme? Masih adakah dalam jiwa anak-anak bangsa? Pertanyaan itulah yang sekarang membutuhkan jawaban yang jujur dari hati nurani kita masing-masing. Bukan dijawab dengan kata-kata, tapi dengan tindakan yang benar. Bahkan para pengamat menilai rasa cinta tanah air di kalangan masyarakat luas hingga pemimpin bangsa sudah menurun, hal ini disebabkan karena aspek kebudayaan bangsa Indonesia yang lemah. Kebudayaan yang seharusnya kita junjung tinggi dan harus dilestarikan perlahan mulai kita lupakan, tergantikan dengan kecanggihan zaman. Anak-anak kecil tak lagi main petak umpet, grobag sodor, belajar membatik, belajar menari daerah dan kesenian daerah lainya. Mereka lebih memilih play station, les balet, dance, dan wahana ceria seperti dunia fantasi. Para remaja kita tak mau lagi bersentuhan dengan batik ataupun kebaya. Mungkin masih ada, tapi jumlah itu sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Lalu mengapa kita sekarang berteriak-teriak lantang namun tak m...

Kenangan SD

Aku masih inget seorang teman SD, Namanya Linda Mustika Widiatno. Temen-temen biasa memanggilnaya Linda. Menurutku Linda adalah cewek tercantik waktu itu. Rambutnya panjang, lurus, senyumnya manis, dan cukup baik hati. Memang Linda tak secantik Nikita Willy atau Donita. Tapi lebih cantik lah, kalau dibandingin ama Siren Sungkar. Kulitnya putih langsat. Yang paling ngangeni darinya adalah tahi lalatnya. Terletak dibawah bibir, sebelah kanan. Mungil, manis dan imut banget. Sewaktu dulu, cintanya anak SD hanya sekadar guyonan. Ada saja hal-hal yang sering kuingat, misalnya pagi-pagi selalu ada gambar hati dipanah, dan di tengahnya ada tulisan nama seorang. Contohnya, Sobirin love Dwi. Ada-ada saja anak SD udah kenal cinta. Kembali ngomongin Linda, aku mash inget, dulu waktu kelas satu, aku pernah satu bangku sama dia. Rasanya berdebar-debar duduk deket dia. Aku, cowok kurang popular di SD, sebangku dengan cewek paling cantik di kelas itu. Hehehehe… Tapi, ini terjadi selama satu Cawu (ti...

Belajar istigfar

Salah Belajar Istighfar Suara adzan ashar berkumandang dengan mesra, ketika Munir mencoba kembali membaca kitab Fathul Qorib. Kepalanya dipukul beberapa kali oleh kang Aziz karena ia salah menentukan i’rob dan tasrifan suatu kata. Kitab yang dibawanya adalah warisan dari kang-kang yang lebih dulu mondok di pondok pesantren Al-Itqon. Sebuah pondok dekat dengan jalan pantura, sehingga memudahkan para santrinya untuk membolos sorogan. Sore itu memang hanya ada kang Aziz, Munir, dan seorang santri baru yang belum berani membolos, Tarom namanya, anak kyai mushola yang katanya hafal Al-qur’an dalam satu minggu. “Kitaba ahkamu thoharotu, utawi iki iku nerangake kitab hukum sesuci” “Salah!” “Katibu ahkami thoharoti” “Salah” “Lha terus apa bacanya, kang?” “Kitabu ahkami thoharoti, ngerti?” “Orak” “mubtada’ dibaca rafa’, dan seterusnya dibaca majrur” “Oh” “Wis, hari ini sorogan cukup sampai halaman ini saja, lhawong baca saja masih glagepan” Tarom belum diberi kesempatan membaca kit...

Menulis dengan air

Satu : bingung memulai? Menuang air ke dalam gelas Sekilas anda akan sedikit bingung, apa hubungan antara menulis dengan menuang air ke dalam gelas. Tentu saja ini tidak diartikan secara harfiah saja. Menulis sama halnya dengan menuang air ke dalam gelas. Ini adalah analogi yang paling mudah untuk menjelaskna gampangnya menulis. Daam hal ini menulis cerpen pun sama halnya menuangkan air ke dalam gelas. Banyak anggapan bahwa menulis cerpen itu sulit. Anda tidak tahu kapan akan memulai cerita sebuah cerpen. Anda kebingungan untuk memualia cerita dari mana. Bahkan suatu waktu, anda berpikir untuk tertarik menulis cerpen, tapi anda tidak punya ide. Atau anda kurang yakin akan ide anda. Anda beragnggapan ide ini terlalu mudah atau terlalu sederhana. Jangan putus asa begitu saja, yakinlah bahwa setiap tulisan/cerita yang anda buat alkan bermanfaat setidaknya bagi anda sendiri. Dengan perbaikan itu anda akan semakin yakin untuk meneruskan cerita anda. Percayalah bahwa tulisan itu akan dib...

Aku Menemukan Wanita Secantik Bunga

Aku menemukan wanita di sebuah spion Di sebuah jalanan, disertai debu berkalung ungu Di sebuah spion itulah, kau menyapaku Menawarkanku semacam cinta. Suatu hari, kau mengajakku bertatapan di spion Sebuah mobil, di sela lampu merah, di sebelah truck merah. Kau menawarkan bibir merahmu dan aku mau Satu saja kecupan di kening dan membuatku mati kutu Satu saja kedipan di hati dan membuatku hampir mati. Aku katakan saja aku sedang bercumbu di sebuah spion Dengan seorang wanita cantik, berambut nikmat. Aku katakan saja, ini pengalamanku pertama Dan akan nikmat selanjutnya Tapi ternyata, aku salah mata. Dia bercumbu dengan pria di spion selanjutnya. Bukan padaku tentunya. Lampu hijau menyala, selamat tinggal Shela Tentu saja aku tahu namanya Tetanggaku yang menulis nama di plat mobilnya.