Langsung ke konten utama

Aku Menemukan Wanita Secantik Bunga

Aku menemukan wanita di sebuah spion
Di sebuah jalanan, disertai debu berkalung ungu

Di sebuah spion itulah, kau menyapaku
Menawarkanku semacam cinta.
Suatu hari, kau mengajakku bertatapan di spion
Sebuah mobil, di sela lampu merah, di sebelah truck merah.
Kau menawarkan bibir merahmu dan aku mau
Satu saja kecupan di kening dan membuatku mati kutu
Satu saja kedipan di hati dan membuatku hampir mati.

Aku katakan saja aku sedang bercumbu di sebuah spion
Dengan seorang wanita cantik, berambut nikmat.
Aku katakan saja, ini pengalamanku pertama
Dan akan nikmat selanjutnya

Tapi ternyata, aku salah mata.
Dia bercumbu dengan pria di spion selanjutnya.
Bukan padaku tentunya.

Lampu hijau menyala, selamat tinggal Shela
Tentu saja aku tahu namanya
Tetanggaku yang menulis nama di plat mobilnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA PARODI VINCENT LEBIH MENGHIBUR DARIPADA BANYAK SULAP DI INDONESIA?

  Ramadan 2026 ini, publik YouTube Indonesia dihibur oleh sebuah penampilan yang tidak biasa. Vincent Rompies memarodikan sosok pesulap dari India, Jadugar Prince. Dari kostum, gestur tubuh, hingga gaya dramatisnya, semuanya tampak sengaja dibuat berlebihan. Secara format, jelas ini adalah parodi. Namun, ada satu hal yang membuat pertunjukan itu berbeda. Vincent tidak memainkan parodi ini secara asal-asalan. Ia tetap membawakan sulapnya secara serius. Gesture panggungnya mantap, ritmenya terjaga, dan trik-triknya tetap dipresentasikan seolah-olah benar-benar sakral. Kombinasi antara kesungguhan dan absurditas inilah yang justru membuat penonton tertawa sekaligus terhibur. Video tersebut kemudian viral. Di tengah kejenuhan publik terhadap format pertunjukan sulap yang terasa monoton, penampilan Vincent hadir seperti angin segar. Fenomena ini sebenarnya membuka satu pertanyaan yang lebih dalam: mengapa parodi yang dimainkan secara serius justru terasa begitu menghibur? Fiksi: Ber...

Surat Sekolah

Ada yang ingin kusampaikan Sepucuk surat yang ku tulis dengan pensil kayu Kayunya ku ambil dari sebatang pohon Di depan sekolah Yang sekarang digusur gara-gara surat tanah Suratnya kukirim dengan prangko tiga ribu rupiah Bergambar rumah adat jawa tengah Di depan rumah, ada aku yang sedang menggambar awan merah Tapi pensilku berwarna hitam Aku ingin membeli pensil warna merah Di toko sebelah Harganya cukup dua ribu rupiah Uangnya ku dapat dari hasil menjual puisi Suratnya kuberikan kepada tukang pos Tukang pos yang dulu seorang guru Di sebuah sekolah Yang sekarang digusur gara-gara surat tanah Ia berkata Sekarang sudah gratis sekolah Silahkan menuju langit mana yang kau suka Jangan lupa kau balas suratku ini Kau tulis dengan pensil kayu Kayunya kau ambil dari sebatang pohon Di depan sekolah Yang sekarang digusur gara-gara surat tanah