Langsung ke konten utama

Malu?

Nasionalisme? Masih adakah dalam jiwa anak-anak bangsa? Pertanyaan itulah yang sekarang membutuhkan jawaban yang jujur dari hati nurani kita masing-masing. Bukan dijawab dengan kata-kata, tapi dengan tindakan yang benar. Bahkan para pengamat menilai rasa cinta tanah air di kalangan masyarakat luas hingga pemimpin bangsa sudah menurun, hal ini disebabkan karena aspek kebudayaan bangsa Indonesia yang lemah.
Kebudayaan yang seharusnya kita junjung tinggi dan harus dilestarikan perlahan mulai kita lupakan, tergantikan dengan kecanggihan zaman. Anak-anak kecil tak lagi main petak umpet, grobag sodor, belajar membatik, belajar menari daerah dan kesenian daerah lainya. Mereka lebih memilih play station, les balet, dance, dan wahana ceria seperti dunia fantasi. Para remaja kita tak mau lagi bersentuhan dengan batik ataupun kebaya. Mungkin masih ada, tapi jumlah itu sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia.
Lalu mengapa kita sekarang berteriak-teriak lantang namun tak memberikan hasil apa-apa ketika angklung, batik, reog ponorogo, bahkan tempe dipamerkan malaisia dihadapan dunia dan diklaim sebagai identitas Malaysia. Apakah kita selama ini bangga dengan kebudayan kita, apakah kita lebih memilih tempe dari pada burger atau pizza? Apakah kita lebih memilih batik dan kebaya dari pada tang-top atau celana jeans? Atau kita lebih memilih menari jaipong dari pada nge-dance? Lali mengapa kita harus marah karena hal itu?
Mungkinkah rasa nasionalisme kita akan bangkit kembali atau kita mulai sadar akan kesalahan kita. Kebudayaan gotong royong, bersatu padu muncul kembali dalam protes atas pengklaiman kebudayaan yang kita “rasa” miliki. Sebaiknya kita berbenah diri untuk menuju gerbang baru, lembaran naru dari suatu perjalanan hidup bangsa kita setelah merdeka, merdeka yang riil bukan abstraksi belaka.

jangan lupa koment ya,,,,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA PARODI VINCENT LEBIH MENGHIBUR DARIPADA BANYAK SULAP DI INDONESIA?

  Ramadan 2026 ini, publik YouTube Indonesia dihibur oleh sebuah penampilan yang tidak biasa. Vincent Rompies memarodikan sosok pesulap dari India, Jadugar Prince. Dari kostum, gestur tubuh, hingga gaya dramatisnya, semuanya tampak sengaja dibuat berlebihan. Secara format, jelas ini adalah parodi. Namun, ada satu hal yang membuat pertunjukan itu berbeda. Vincent tidak memainkan parodi ini secara asal-asalan. Ia tetap membawakan sulapnya secara serius. Gesture panggungnya mantap, ritmenya terjaga, dan trik-triknya tetap dipresentasikan seolah-olah benar-benar sakral. Kombinasi antara kesungguhan dan absurditas inilah yang justru membuat penonton tertawa sekaligus terhibur. Video tersebut kemudian viral. Di tengah kejenuhan publik terhadap format pertunjukan sulap yang terasa monoton, penampilan Vincent hadir seperti angin segar. Fenomena ini sebenarnya membuka satu pertanyaan yang lebih dalam: mengapa parodi yang dimainkan secara serius justru terasa begitu menghibur? Fiksi: Ber...

Surat Sekolah

Ada yang ingin kusampaikan Sepucuk surat yang ku tulis dengan pensil kayu Kayunya ku ambil dari sebatang pohon Di depan sekolah Yang sekarang digusur gara-gara surat tanah Suratnya kukirim dengan prangko tiga ribu rupiah Bergambar rumah adat jawa tengah Di depan rumah, ada aku yang sedang menggambar awan merah Tapi pensilku berwarna hitam Aku ingin membeli pensil warna merah Di toko sebelah Harganya cukup dua ribu rupiah Uangnya ku dapat dari hasil menjual puisi Suratnya kuberikan kepada tukang pos Tukang pos yang dulu seorang guru Di sebuah sekolah Yang sekarang digusur gara-gara surat tanah Ia berkata Sekarang sudah gratis sekolah Silahkan menuju langit mana yang kau suka Jangan lupa kau balas suratku ini Kau tulis dengan pensil kayu Kayunya kau ambil dari sebatang pohon Di depan sekolah Yang sekarang digusur gara-gara surat tanah