Langsung ke konten utama

Sudah Tuhan Sudah

Pernahkah kau terbuat dari angin? (Kujawab “ya” aku pernah terbuat dari angin dan strobery busuk buatan tuhan Hanya tuhan yang pernah membusukan angin Dan hanya angin yang mampu membusukkan busuk) Maka tersebutlah Tuhan memerdekakanmu dari syurga Mempertemukanmu dengan belukar. Maka tersebutlah Tuhan menyerumu dari syurga Mempertemukanmu dengan neraka Maka tersebutlah Tuhan menduniakamu Menidurimu seraya berkata “tuhanmu tak pernah tidur untuk menidurkanmu” Selesai “Pernahkah kamu terbuat dari tanah?”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA PARODI VINCENT LEBIH MENGHIBUR DARIPADA BANYAK SULAP DI INDONESIA?

  Ramadan 2026 ini, publik YouTube Indonesia dihibur oleh sebuah penampilan yang tidak biasa. Vincent Rompies memarodikan sosok pesulap dari India, Jadugar Prince. Dari kostum, gestur tubuh, hingga gaya dramatisnya, semuanya tampak sengaja dibuat berlebihan. Secara format, jelas ini adalah parodi. Namun, ada satu hal yang membuat pertunjukan itu berbeda. Vincent tidak memainkan parodi ini secara asal-asalan. Ia tetap membawakan sulapnya secara serius. Gesture panggungnya mantap, ritmenya terjaga, dan trik-triknya tetap dipresentasikan seolah-olah benar-benar sakral. Kombinasi antara kesungguhan dan absurditas inilah yang justru membuat penonton tertawa sekaligus terhibur. Video tersebut kemudian viral. Di tengah kejenuhan publik terhadap format pertunjukan sulap yang terasa monoton, penampilan Vincent hadir seperti angin segar. Fenomena ini sebenarnya membuka satu pertanyaan yang lebih dalam: mengapa parodi yang dimainkan secara serius justru terasa begitu menghibur? Fiksi: Ber...

Surat Sekolah

Ada yang ingin kusampaikan Sepucuk surat yang ku tulis dengan pensil kayu Kayunya ku ambil dari sebatang pohon Di depan sekolah Yang sekarang digusur gara-gara surat tanah Suratnya kukirim dengan prangko tiga ribu rupiah Bergambar rumah adat jawa tengah Di depan rumah, ada aku yang sedang menggambar awan merah Tapi pensilku berwarna hitam Aku ingin membeli pensil warna merah Di toko sebelah Harganya cukup dua ribu rupiah Uangnya ku dapat dari hasil menjual puisi Suratnya kuberikan kepada tukang pos Tukang pos yang dulu seorang guru Di sebuah sekolah Yang sekarang digusur gara-gara surat tanah Ia berkata Sekarang sudah gratis sekolah Silahkan menuju langit mana yang kau suka Jangan lupa kau balas suratku ini Kau tulis dengan pensil kayu Kayunya kau ambil dari sebatang pohon Di depan sekolah Yang sekarang digusur gara-gara surat tanah