Langsung ke konten utama

Cerita-Cerita Orang Tua



“Jika kau lupa cara bangun di pagi hari,
Tanam saja pohon ini Nak,
Konon, jika kau merawat pohon ini, ia akan merawatmu pula.
Siramlah setiap hari, kalau daunnya diserang hama, kau cukup membersihkannya.
Setelah besar dan rindang, pohon ini akan membawa anak kecil datang,
Baik itu anakmu atau anak-anakmu.
Mereka bermain tentang tembang yang diajarkan, atau permainan yang tak jelas siapa yang menang.
Jika panas, tentu mereka akan berteduh dibawahnya dan kamu menemaninya terlelap.
Jika hujan, mereka akan masuk ke rumahmu dan bercerita tentang asyiknya pohon itu.
Suatu hari, pohon itu akan menyebarkan biji-biji baru,
Anak-anakmu yang nantinya menanamnya, merawatnya dan menghasilkan anak-anak yang sama.

Ini nasehatku, jika kamu lupa cara bangun di pagi hari,
Sesekali datanglah ke pohon itu, bermain gangsing atau klereng kesukaanmu,
Kemudian kamu cari nama ibumu di sela-sela kulit pohon itu.
Aku menuliskannya di situ,”




Catatan : Puisi ini dimuat dalam buku kumpulan puisi "Syair Hijau" Universitas Negeri Semarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA PARODI VINCENT LEBIH MENGHIBUR DARIPADA BANYAK SULAP DI INDONESIA?

  Ramadan 2026 ini, publik YouTube Indonesia dihibur oleh sebuah penampilan yang tidak biasa. Vincent Rompies memarodikan sosok pesulap dari India, Jadugar Prince. Dari kostum, gestur tubuh, hingga gaya dramatisnya, semuanya tampak sengaja dibuat berlebihan. Secara format, jelas ini adalah parodi. Namun, ada satu hal yang membuat pertunjukan itu berbeda. Vincent tidak memainkan parodi ini secara asal-asalan. Ia tetap membawakan sulapnya secara serius. Gesture panggungnya mantap, ritmenya terjaga, dan trik-triknya tetap dipresentasikan seolah-olah benar-benar sakral. Kombinasi antara kesungguhan dan absurditas inilah yang justru membuat penonton tertawa sekaligus terhibur. Video tersebut kemudian viral. Di tengah kejenuhan publik terhadap format pertunjukan sulap yang terasa monoton, penampilan Vincent hadir seperti angin segar. Fenomena ini sebenarnya membuka satu pertanyaan yang lebih dalam: mengapa parodi yang dimainkan secara serius justru terasa begitu menghibur? Fiksi: Ber...

Surat Sekolah

Ada yang ingin kusampaikan Sepucuk surat yang ku tulis dengan pensil kayu Kayunya ku ambil dari sebatang pohon Di depan sekolah Yang sekarang digusur gara-gara surat tanah Suratnya kukirim dengan prangko tiga ribu rupiah Bergambar rumah adat jawa tengah Di depan rumah, ada aku yang sedang menggambar awan merah Tapi pensilku berwarna hitam Aku ingin membeli pensil warna merah Di toko sebelah Harganya cukup dua ribu rupiah Uangnya ku dapat dari hasil menjual puisi Suratnya kuberikan kepada tukang pos Tukang pos yang dulu seorang guru Di sebuah sekolah Yang sekarang digusur gara-gara surat tanah Ia berkata Sekarang sudah gratis sekolah Silahkan menuju langit mana yang kau suka Jangan lupa kau balas suratku ini Kau tulis dengan pensil kayu Kayunya kau ambil dari sebatang pohon Di depan sekolah Yang sekarang digusur gara-gara surat tanah