Langsung ke konten utama

TIPS MENULIS CERPEN: MULAILAH MEMASAK!

(Pembaca telah merdeka, beri dia kebebasan sepenuhnya)

Layaknya sebuah resep masakan, cerpen juga butuh garam dan merica dalam penciptaanya. Setiap masakan mempunyai bumbu-bumbu tersendiri yang membuatnya semakin enak disantap. Bumbu-bumbu itu dicampur menjadi satu, sehingga sulit dipilah-pilahkan. Garam dan merica merupakan salah satu bumbu yang larut dalm masakan, tetapi bumbu yang lain seperti cabe dan bawang taklarut dalam masakan (masih tampak utuh). Walaupun masih tampak utuh, rasa pedasnya cabe pun masih tersa juga dalam masakan. Lalu, apa kaitanya dengan menulis cerpen?
Menulis cerpen layaknya memilih bumbu mana yang akan dipakai dalam memasak. Garam memang tidak tampak dalam masakan, tapi rasa asin akan muncul di lidah. Merica masih mungkin tampak terlihat dalam masakan, dan rasanya pun akan masih terasa. Analogi ini menyangkut dengan gaya penceritaan seseorang dalam bercerita.
Salah satu sarana yang paling berguna dan paling kuat bagi penulis cerpen adalah sarana understatement (pernyataan atau ungkapan dalam gaya menahan diri dan sering menggunakan bentuk ironi). Anda memberi tahu pembaca lebih sedikit supaya pembaca mengetahui lebih banyak. Pembaca diberi informasi secukupnya agar pikiran pembaca, imajinasi pembaca dapat bekerja. Dengan understatement, pembaca bisa menikmati kebebasanya berimajinasi dan mendapatkan kepuasan yang besar. Ini seperti garam yang taktampak, tapi lidah bisa merasakanya dengan sempurna.
Nah, lawan dari understatement adalah overstatement (pengarang melukiskan dengan cermat dan detail apa yang dilihat, dirasa, oleh pancaindra). Gaya bercerita overstatement tidak memberi kebebasan berimajinasi pembaca. Pembaca hanya dituntun untuk berimajinasi sesuai dengan apa yang tertulis dalam cerpen. Bagaimanapun, pasti ada pembaca yang menyukai membaca cerpen overstatement, karena membaca understatement mengharuskan pembaca bekerja lebih banyak dari pada overstatement. Pembaca yang lebih suka overstatement mungkin bukan pembaca yang terbaik.
Nah, berceritalah seperti memasak. tak menampakkan semua bumbunya, tapi akan terasa semuanya di lidah. Ini akan memberi kesan luar biasa kepada pembaca Anda. 

*ditulis ulang dari buku "Menulis dengan Emosi" karya Carmel Bird

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA PARODI VINCENT LEBIH MENGHIBUR DARIPADA BANYAK SULAP DI INDONESIA?

  Ramadan 2026 ini, publik YouTube Indonesia dihibur oleh sebuah penampilan yang tidak biasa. Vincent Rompies memarodikan sosok pesulap dari India, Jadugar Prince. Dari kostum, gestur tubuh, hingga gaya dramatisnya, semuanya tampak sengaja dibuat berlebihan. Secara format, jelas ini adalah parodi. Namun, ada satu hal yang membuat pertunjukan itu berbeda. Vincent tidak memainkan parodi ini secara asal-asalan. Ia tetap membawakan sulapnya secara serius. Gesture panggungnya mantap, ritmenya terjaga, dan trik-triknya tetap dipresentasikan seolah-olah benar-benar sakral. Kombinasi antara kesungguhan dan absurditas inilah yang justru membuat penonton tertawa sekaligus terhibur. Video tersebut kemudian viral. Di tengah kejenuhan publik terhadap format pertunjukan sulap yang terasa monoton, penampilan Vincent hadir seperti angin segar. Fenomena ini sebenarnya membuka satu pertanyaan yang lebih dalam: mengapa parodi yang dimainkan secara serius justru terasa begitu menghibur? Fiksi: Ber...

FABEL: PERSAHABATAN PIPIT DAN BANGAU

Seekor burung Pipit terbang melintasi persawahan di dekat pantai Cahaya kabupaten Kendal. Ia terbang dengan perasan ceria karena hendak menemui sahabatnya, Seekor burung Bangau. Sahabatnya itu tinggal di sebuah pohon di dekat area tambak. Bangau sangat suka ikan-ikan kecil yang sering muncul di pinggir tambak. Sampailah burung Pipit di sarang Bangau. Namun ia tidak menemukan sahabatnya itu ada di sarangnya. Ia mencari di sekitar tambak. Rupanya bangau sedang berdiri satu kaki di tengah tambak. Kemudia burung Pipit segera memanggilknya dari kejauhan. “Bangau, Bangau, ke sini, aku datang,” panggil Burung Pipit. “Iya, saya segera ke situ,” jawab Bangau. Burung Bangau mengepakkan sayapnya yang lebar dan berwarna putih, lalu terbang menhampiri burung Pipit. “Hai, Pipit, apa kabar?” tanya Bangau. “Baik, kamu sendiri?” jawab Pipit. “Aku baik-baik saja, sehat, aku sedang mencari ikan-ikan kecil di sekitar tambak, kamu mau?” tanya Bangau. “Wah, maaf Bangau, aku tidak makan ikan...

CERITA KONYOL GURU GAHOOLL

Monica, Gue, dan Gue lagi. Anehnya gue selalu bilang wow sambil makan beling kayak kuda lumping kehabisan emping saat gue lihat senyumnya. Namanya Monica, gadis berambut beringin, kalo lo lihat rambutnya tuh bisa buat nyimpen apa aja, kulkas tanpa pintu pun bisa diumpetin di situ. Waktu itu Monica sedang duduk di bawah pohon di depan sekolah, terus gue ngendap-ngendap masuk lewat gerbang sekolah, sebenernya sih gue biasa aja lewatnya. Haha. Gue parkir motor gue di depan Monica. Motor gue tuh motor cowok banget, warna pink dengan motif kadal lagi nelen garpu di bagian tangkinya. Gue termasuk guru favorit di sekolah ini. Setiap gue lewat, cewek-cewek slalu bilang WOW sambil nempel di mading sekolah. banyak yang iri dengan ketenaran gue ini. Tapi Cuma satu cewek yang tidak tertarik dengan kecakepan gue ini, itu dia, Monica, gadis kribo mirip tina toon yang nyanyi bolo-bolo (nyambung nggak?) haha. Nah, Monica duduk melamun sendiri dibawah pohon, kayak kuntilanak sedang galau karena ...